Monday, February 15, 2016

Pesawat Pembom Su-34 (Fullback) Gunakan Rudal Kh-35U Sebagai Rudal Anti Kapal Untuk Pertama Kali

Pesawat Pembom Su-34 (Fullback) Gunakan Rudal Kh-35U Sebagai Rudal Anti Kapal Untuk Pertama Kali

Pesawat pembom Su-34 (  Fullback)  telah dilengkapi dengan amunisi baru, yakni, Kh-35U (AS-20) rudal ini dapat digunakan untuk menyerang kapal tepatnya rudal ini adalah rudal anti kapal selam (ASM), menurut sebuah saluran harian Rusia. Setidaknya, salah satu  dari rudal Kh-35U telah tampak pada sebuah pesawat bomber SU-34.

Penggunaan Rudal anti kapal ini baru pertama kali digunakan oleh Militer Rusia, belum diketahui sejauh mana efektif dari rudal ini. Namun, dapat dipastikan rudal ini sangat mematikan jika mengenai sasarannya. Ada banyak jenis rudal Kh-35 ASM yang telah dimodifikasi  menjadi rudal Kh-35U yang terbaru. Rudal Kh-35U telah diadaptasi untuk  berbagai pesawat rotor / sayap, senjata peluncuran pantai dan peluncur berbasis kapal . Rudal subsonik memiliki berat 550 kg dan jarak terbang 260 km, yang didukung oleh Unit-64M dengan mesin turbofan. Uji coba dari Kh-35U selesai pada tahun 2013. Sekarang rudal yang diproduksi oleh Taktis Rudal Corporation`s (TMC) di produksi di fasilitas yang terletak di Korolev (Moscow Region).

Pesawat Pembom Su-34 (Fullback) Gunakan Rudal Kh-35U Sebagai Rudal Anti Kapal Untuk Pertama Kali

Pesawat Pembom Su-34 (Fullback) Gunakan Rudal Kh-35U Sebagai Rudal Anti Kapal Untuk Pertama Kali


Kh-35UE`s yang telah modifikasi atau versi ekspor Kh-35U memiliki hulu ledak dengan  berat 145 kg dan kecepatan maksimum Mach 0,85. Rudal ini seharusnya menjadi senjata anti-kapal yang sangat efektif, menurut beberapa ahli Rusia dan Barat. 

Sumber : detikmiliter.com

Militan Al-Shabaab Klaim Jadi Dalang Ledakan di Pesawat Somalia

  Militan Al-Shabaab Klaim Jadi Dalang Ledakan di Pesawat Somalia
Pesawat Somalia yang berlubang karena ledakan (REUTERS/Feisal Omar)

Mogadishu - Kelompok militan Al-Shabaab mengaku bertanggung jawab atas ledakan yang memicu lubang di pesawat maskapai Somalia, Daallo Airlines pekan lalu. Ledakan tersebut diketahui dipicu oleh TNT.

Seperti dilansir Reuters, Minggu (14/2/2016), pernyataan kelompok Al-Shabaab itu disampaikan melalui pesan elektronik. Kelompok pemberontak ini mengaku ingin melakukan pembalasan terhadap Barat.

"Harakat Al-Shabaab Al Mujahidin melakukan operasi udara sebagai pembalasan atas kejahatan yang dilakukan oleh koalisi tentara salib Barat dan badan-badan intelijen mereka terhadap Muslim Somalia," tulisnya dalam pernyataan melalui email.

Sebelumnya diberitakan, bahan peledak TNT sekelas militer meledak hingga membuat lubang di dekat sayap pesawat jenis Airbus A321-111 itu. Ledakan terjadi Selasa (2/2) setelah pesawat lepas landas dari Mogadishu, ibukota Somalia.

Insiden ini dilaporkan melukai dua orang yang ada di dalam pesawat. Namun kemudian otoritas Somalia menemukan sesosok jasad di dekat ibukota Mogadishu, yang diyakini sebagai korban yang jatuh dari pesawat Daallo Airlines yang dilanda ledakan tersebut.

Al-Shabaab merupakan kelompok ekstremis yang mendalangi sejumlah aksi kekerasan di dalam dan sekitar Somalia dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa serangan teror Al-Shabaab ditargetkan terhadap wisatawan, salah satunya serangan terhadap kompleks restoran-hotel di kawasan wisata pantai Mogadishu bulan lalu.

(imk/rna) Sumber : detik.com

Pantau perbatasan, drone buatan Ongen dipasang di Natuna

Pantau perbatasan, drone buatan Ongen dipasang di Natuna
Kepulauan Natuna. ©REUTERS/Tim Wimborne
 

Kementerian Pertahanan memesan drone OS Wifanusa sedikitnya tiga unit karya Yulian Paonangan alias Ongen yang saat ini mendekam di balik jeruji besi Bareskrim Polri. Rencananya, dua unit untuk perbatasan dan satu unit untuk pengawasan ZEE Natuna.

Staf Ahli Kepala Staf TNI AD (Kasahli Kasad), Mayjen TNI Turmarhaban Rajagukguk mengatakan untuk menunjang tugas pokoknya, TNI AD membutuhkan alutsista pesawat terbang tanpa awak.

"Ini adalah bagian dari modernisasi alutsista untuk mendukung tugas pokok TNI AD. Drone adalah salah satu kebutuhan kita," kata Turmarhaban di Jakarta, Kamis (11/2).

Dia menjelaskan, drone OS Wifanusa bisa take off dan landing di air serta landasan darat. Menurut dia, ini cocok untuk Indonesia yang luas wilayahnya adalah laut. Selain itu, kecanggihan drone ini dilengkapi dengan tiga kamera super canggih.

"Drone ini kan salah satu prototipe yang nantinya kita akan kaji sehingga seperti apa yang kita butuhkan baik untuk tugas operasi militer perang maupun tugas operasi militer selain perang," ujarnya.

Lanjut dia, kemampuan terbang drone buatan Ongen ini juga bisa mencapai 800 km dengan lama terbang (endurance) 8-10 jam dengan sistem kendali jarak jauh (Autonomous System) yang tercanggih di dunia saat ini buatan Kanada. Drone Ongen ini juga sudah mendapat sertifikat uji litbang dari TNI AL dan Sertifkat TKDN 28,01 persen Kemenperin.

Kini drone OS Wifanusa dipamerkan di Mabes TNI Angkatan Darat (AD) selama dua hari mulai Rabu (10/2) dan Kamis (11/2) hari ini.

[dan] Sumber : Merdeka.com